Pentingkah Asuransi Pendidikan?

Setiap orangtua pasti akan memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya. Begitupun dalam hal pendidikan. Rasanya, semua orangtua pasti ingin putra-putrinya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Lalu, bagaimana dengan Anda? Sudahkah mempersiapkan pendidikan anak Anda?

Neraca-Dalam merencanakan keuangan keluarga (termasuk pendidikan anak) asuransi merupakan salah satu komponen yang penting. Karena tanpa adanya asuransi maka resiko tercapainya tujuan keuangan keluarga yang telah kita rencanakan bisa gagal tercapai.

Sebagai orangtua, kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai persoalan kala menghadapi tahun ajaran baru yang tidak berapa lama lagi akan tiba. “Ya, biasanya faktor ekonomi menjadi alasan utama banyak siswa dan orang tua untuk tidak melanjutkan pendidikan putra-putrinya,” ucap Agus ketika ditemui Neraca Weekend kala mendatangi perusahaan asuransi di bilangan Sudirman.

Padahal, ini tidak perlu terjadi kalau kita mensiasatinya denganbaik. Umpamaya dengan ikut asuransi pendidikan. Dengan asuransi pendidikan, pemilik asuransi akan mendapatkan dana tiap kali putra-putri mereka memasuki jenjang pendidikan baru, SO, SMP, SMA, dan PT. Selain itu dana asuransi akan tetap diberikan jika pemiliknya meninggal dunia tanpa harus membayar premi lagi. Sebaliknya, jika Anda mengambil dana sebelum waktu yang ditetapkan akan dikenakan pinalti, berupa membayarkan sejumlah uang dalamjumlah tertentu.

Ya, selain menabung di bank, asuransi sekarang ini banyak dijadikan sebagai sarana untuk menyediakan dana pendidikan. Asuransi dipilih karena selain memberikan bunga yang lebih besar juga ada perlindungannya sehingga pendidikan anak tetapterjamin, karena jika terjadi resiko (meninggal, sakit kritis, cacat total tetap) tehadap orang tua si anak yang mengakibatkan orang tua tidak bisa mencari nafkah maka perusahaan sauransi akan menggantikan peran orang tua tersebut, perusahaan akan membiayai pendidikan si anak (sesuai produk asuransi yang diambil).

Maka dari itu, sudah selayaknya untuk rencanakan pendidikan anak Anda sejak dini. Karena, Anda dapat memulai program asuransi sejak anak berusia 0 tahun dan premi yang dibayarkan bisa lebih murah ketimbang kalau Anda mengikuti asuransi saat anak sudah lebih besar, premi yang harus dibayarkan akan lebih tinggi. “Karena usia anak dan usia orang tua juga menjadi faktor penentu besarnya premi,” ucap Khairisalah satu petugas asuransi Prudential.

Meskipun dijanjikan dengan segala keuntungan. Namun, terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam memilih produk asuransi, diantaranya

1.Perusahaannya, pilihlah perusahaan yang telah lama berdiri dan terpercaya serta memiliki kredibilitas.serta terdaftar.

2.Agen, belilah dari agen yang bertanggungjawab dan benar-benar menguasai produk dan fokus sebagai agen. Sebaiknya hindari membeli hanya karena rasa tidak enak tetapi belilah produk karena anda butuh dan produknya sesuai dengan yang anda butuhkan.

3.Produk, pilihlah produk yang sesuai kebutuhan andajikaanda kurang mengetahui produk apa yang sesuai,tanyalah kepada agen yang menawarkan Anda (untuk itu pastikan agen yang menawarkan mengerti tentang produk).

Asuransi Pendidikan Syariah

Kini, beberapa perusahaan asuransi menyediakan asuransi pendidikan syariah. Tipe ini tersedia untuk Anda yang mempertanyakan kehalalan berasuransi pendidikan.

Kehalalan asuransi memang menjadi isu yang mengundang perbedaan pendapat di antara para ulama, ada yang pro maupun kontra. Munculnya pendapat yang kontra antara lain disebabkan oleh sejumlah alasan. Yaitu, asuransi merupakan bisnis pertaruhan dan ketidakpastian. Apalagi jika dikaitkan dengan asuransi jiwa, dimana sebagian pihak berpendapat bahwa asuransi jiwa ini seolah-olah merupakan upaya untuk “menantang” takdir Allah. Bahkan di negara Barat, sudah banyak kasus terjadi, dimana ahli waris tega “mencelakakan” orangtua atau keluarga yang menjadi pemegang polis demi mendapatkan harta dari klaim asuransi. Akibatnya, sebagian ulama di Barat kemudian mengharamkan asuransi jiwa.

Namun demikian, semua sisi buruk tersebut dapat diatasi ketika “aturan main” asuransi ini disesuaikan dengan syariah. Menurut pendapat mayoritas ulama, asuransi bukan bisnis pertaruhan dan ketidakpastian, melainkan salah satu cara untuk mempersiapkan masa depan, Kemudian, asuransi juga dapat menjadi sarana untuk mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik, dan bukan generasi penerus yang lemah dan tidak berdaya. Sehingga, keikutsertaan kita pada asuransi pendidikan anak sebagai contohnya, merupakan salah satu cara untuk menjamin keberlangsungan pendidikan generasi yang akan datang.

Selanjutnya, jenis transaksi yang dikembangkan asuransi syariah pun memiliki filosofi yang berbeda dengan asuransi konvensional. Pada konsep konvensional, premi yang dibayarkan kepada perusahaan, menjadi milik perusahaan, sehingga perusahaan tersebut bebas menginvestasikan dana premi dimana saja, tanpa mempedulikan halal dan haramnya. Sementara pada akad syariah, ada dua transaksi yang dikembangkan, yaitu tabarru (kebajikan) dan tijarah/bisnis melalui akad mudharabah (bagi hasil).